Aktivitas Antibakteri Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus

  • Karlina Intan Institut Kesehatan Rajawali
  • Aliansy Diani Institut Kesehatan Rajawali
  • Aeni Suci Rizki Nurul Institut Kesehatan Rajawali
Keywords: Staphylococcus aureus, Cinnamomun verum, Difusi Cakram (Kirby-Bauer)

Abstract

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme yaitu bakteri. Bakteri yang sering menyebabkan infeksi kulit adalah bakteri Staphylococcus aureus. Kayu manis (Cinnamomun verum) merupakan tanaman herbal yang sering digunakan sebagai bumbu masakan, namun kayu manis juga memiliki kandungan senyawa kimia seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan triterpenoid yang bersifat antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daya hambat ekstrak kayu manis (Cinnamomun verum) terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Jenis penelitian yang digunakan berupa deskriptif eksperimental laboratorium dengan metode pengujian berupa in vitro secara difusi (Kirby-Bauer) menggunakan kertas cakram. Sampel penelitian ialah ekstrak kayu manis (Cinnamomun verum) dengan konsentrasi 30%, 50%, 65%, 70%, dan 75% dengan diencerkan DMSO 10% yang sebelumnya telah dilakukan proses ekstraksi metode maserasi menggunakan pelarut etanol 95%. Rata-rata hasil pengukuran zona hambat ekstrak kayu manis (Cinnamomun verum) pada konsentrasi 30%, 50%, 65%, 70%, dan 75% masing-masing sebesar 3,7 mm, 4,8 mm, 5,7 mm, 9,7 mm, dan 12,7 mm. Hasil zona hambat pada konsentrasi 30%, 50% dan 65% dikategorikan lemah (resistent), konsentrasi 70% dikategorikan sedang (intermediate), dan konsentrasi 75% dikategorikan kuat (susceptible). Sehingga dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak kayu manis (Cinnamomun verum) yang paling efektif dalam menghambat bakteri Staphylococcus aureus adalah 75% dengan rata-rata zona hambat sebesar 12,7 mm.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Amrie, A. G. al, Ivan, Anam, S., & Ramadhanil. (2015). Uji Efektifitas Ekstrak Daun dan Akar Harrisonia perforata Merr. terhadap Pertumbuhan Bakteri Vibrio cholerae. Jurnal of Natural Science, 3(3), 331–340. http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/ejurnalfmipa/article/view/3343/2382

Ariami, P., Danuyanti, I., & Anggraeni, B. R. (2017). Efektifitas Teh Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L) Sebagai Antimikroba Terhadap Ppertumbuhan Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Teknologi Laboratorium, 3(6), 3–8.

Dewi, S., Asseggaf, S. N., Natalia, D., & Mahyarudin, M. (2019). Efek Ekstrak Etanol Daun Kesum (Polygonum minus Huds.) sebagai Antifungi terhadap Trichophyton rubrum. Jurnal Kesehatan Andalas, 8(2), 198. https://doi.org/10.25077/jka.v8i2.992

Ekawati, E. R., Husnul Y., S. N., & Herawati, D. (2018). Identifikasi Kuman Pada Pus Dari Luka Infeksi Kulit. Jurnal SainHealth, 2(1), 31. https://doi.org/10.51804/jsh.v2i1.174.31-35

Ernawati, & Sari, K. (2015). Kandungan Senyawa Kimia dan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Kulit Buah Alpukat (Persea americana P.Mill) Terhadap Bakteri Vibrio alginolyticus. Jurnal Kajian Veteriner, 3(3), 203–211.

Fikri, M. (2018). Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Kayu Manis (Cinnamomum burmanni) Terhadap Pertumbuhan Methycillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA).

Fitri Sri Rizki*, A. F. (2020). Uji Daya Hambat Antibakteri Salep Ekstrak Etanol Daun Pandan Hutan (Freycinetia sessiliflora Rizki.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus epidermidis. Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 5(1), 1–9.

Handayani, R., Qamariah, N., & Mardova, S. A. (2018). Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Batang Saluang Belum terhadap Bakteri Escherichia coli. Borneo Journal of Pharmacy, 1(1), 16–18. https://doi.org/10.33084/bjop.v1i1.237

Ikrom, Asih, D., Wira, R., Perkasa, B., Tiara, R., & Wasito. (2014). Studi In Vitro Ekstrak Etanol Daun Kamboja ( Plumeria alba ) sebagai Anti Aeromonas hydrophila. Jurnal Sain Veteriner, 32(1), 105–116.

Nurnasari, E., & Wijayanti, K. S. (2019). Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Daun Tembakau terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Jurnal Kefarmasian Indonesia, 9(1), 48–56. https://doi.org/10.22435/jki.v9i1.1219

Reppi, N. B., Mambo, C., & Wuisan, J. (2016). Uji efek antibakteri ekstrak kulit kayu manis (Cinnamomum burmannii) terhadap Escherichia coli dan Streptococcus pyogenes. Jurnal E-Biomedik, 4(1). https://doi.org/10.35790/ebm.4.1.2016.12204

Saftratilofa. (2016). Uji Daya Hambat Ekstrak Daun Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila. Jurnal Ilmiah Universitas Batang Hari, 16(1), 98–103.

Sarosa, A. H., P, H. T., Santoso, B. I., Nurhadianty, V., & Cahyani, C. (2018). Pengaruh Penambahan Minyak Nilam Sebagai Bahan Aditif Pada Sabun Cair Dalam Upaya Meningkatkan Daya Antibakteri Terhadap Staphylococcus aureus. Indonesian Journal Of Essential Oil, 3(1), 1–8. https://ijeo.ub.ac.id

Susi Novaryatiin1, Rezqi Handayani1, R. C. (2018). Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol Umbi Hati Tanah (Angiotepris SP.) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal Surya Medika, 3(2), 23–31. https://doi.org/10.33084/jsm.v3i2.93

Wulansari, E. D., Lestari, D., & Khoirunissa, M. A. (2020). Kandungan Terpenoid Dalam Daun Ara (Ficus carica L.) Sebagai Agen Antibakteri Terhadap Bakteri Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus. Pharmacon, 9(2), 219–225. https://doi.org/10.35799/pha.9.2020.2927

Published
2021-12-31
How to Cite
Intan, K., Diani, A., & Nurul, A. (2021). Aktivitas Antibakteri Kayu Manis (Cinnamomum burmanii) terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus. JURNAL KESEHATAN PERINTIS, 8(2), 121-127. https://doi.org/10.33653/jkp.v8i2.679